Tips Mempersiapkan Hari Pertama Anak Sekolah

Tips Mempersiapkan Hari Pertama Anak Sekolah

Saat usia anak sudah cukup untuk memasuki usia pendidikan, sudah saatnya orangtua mengirim mereka ke sekolah untuk medapatkan pendidikan dan mendapatkan bimbingan agar bakat dan kemampuan si kecil bisa dikembangkan dengan baik.

Hari pertama anak masuk sekolah adalah momen berharga yang sebagian dari anak-anak akan menjalanai momen ini dengan lancar, tanpa halangan dan berjalan baik-baik saja. Akan tetapi, tidak semua anak merasakan hal serupa dengan anak-anak lainnya. Momen hari pertama masuk ke sekolah bisa menjadi momen yang mendebarkan untuk si buah hati. Tak jarang, hal ini pun akan membuat si orangtua, khusunya ibu akan sedikit cemas dengan kondisi si anak. Hal ini mungkin wajar dirasakan oleh oragtua, pasalnya selama ini si anak pergi kemana-mana selalu ditemani oleh sang ibu dan sekarang si anak harus terspisah untuk sementara waktu karena harus belajar bersama dengan gurunya.

Akan tetapi, kecemasan pada orangtua ini tidak bisa dibiarkan demikian saja. Diperlukan usaha untuk segera mencari solusi untuk mengatasi kecemasan sebelum anak masuk sekolah di hari pertamanya. Selain itu, perasaan cemas pada anak pun perlu ibu redakan agar anak merasa lebih siap untuk pergi ke sekolah.

Mungkin saat ini ibu sedang membayangkan bagaimana si buah hati menghadapi hari pertama di sekolahnya. Kemarin-kemarin, si anak masih terlihat bermanja-manjaan dengan ibu dan masih merengek tak ingin jauh dari anda, makan masih disuapi, masih sering digendong dan lain sebagainya.

Akan tetapi, sekarang, tak terasa waktu berjalan seolah begitu cepat. Si buah hati sudah masuk sekolah dan akan disibukkan dengan kegiatan belajarnya disekolah, yang mana hal ini tentunya akan menuntutnya untuk bisa mandiri saat mereka tak bersama dengan anda. Akan tetapi, kekhawatiran yang seringkali muncul dalam benak kita adalah akankah si kecil bisa mandiri di sekolahnya?

Memang benar, tak jarang saat anak pertama kali masuk sekolah, mereka akan meminta anda untuk terus menjaga dan menunggui mereka hingga mereka pulang sekolah nanti. Si ibu harus terus stand by didepan kelasnya atau duduk termenung di kantin sekolah demi untuk menunggu buah hatinya selesai sekolah.

Hal ini tentu saja wajar, pasalnya di hari pertamanya masuk sekolah anak-anak masih merasa asing dengan lingkungan dan orang-orang baru yang mereka jumpai. Umumnya, si anak akan merasa belum memiliki keberanian sepenuh hati untuk jauh dari orangtunya. Anak juga terkadang merasa cemas saat harus memulai mengenal anak-anak lainnya atau bahkan meminta tolong guru di sekolahnya saat ia butuh bantuan, ada pula anak-anak yang merasa takut, bahkan pemalu. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada kesiapannya menghadapi hari pertamanya masuk sekolah.

Selain itu, orangtua umumnya akan merasa tak tega jika harus membiarkan dan melepaskan anak-anaknya demikian saja. Mereka kadang berpikir takut jika sesuatu terjadi pada anaknya, takut ada anak nakal yang menyakitinya, takut si anak rewel atau kesepian dan lain sebagainya.

Padahal, tidak semua sekolah, yakni preschool yang membolehkan orangtua untuk menunggui anaknya terus-terusan. Hal ini tentunya dimaksudkan agar si anak bisa terbiasa untuk mandiri saat jauh dari orangtuanya.

Dengan demikianlah, orangtua perlu mempersiapkan anak-anaknya sebelum menghadapi hari pertamanya masuk sekolah. Agar kecemasan ibu bisa diatasi dan si anak akan merasa lebih siap dengan harinya besok.

Kemudian apa sajakah persiapan itu, mari kita simak beberapa hal berikut ini.

[x_accordion_item title=”1. Latih Kemandirian Si Buah Hati”]Melatih kemandirian anak sebelum mereka berangkat dan menghadapi hari pertamanya masuk sekolah adalah hal yang penting. Hal ini dikarenakan, saat anak masuk sekolah mereka akan jauh dari orangtuanya, termasuk ibunya yang setiap hari selalu bersama dengan si anak. Tentu anak harus belajar bagaimana melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orangtua, seperti saat hendak kencing, mengenakan sepatu, memasukan buku kedalam tas dan masih banyak lagi. Dengan demikian, pelajaran ini pun harus bisa dicontohkan pada si kecil saat mereka ada dirumah. Ajarkan si anak untuk belajar bagaimana menggunakan toilet sendiri, mintalah mereka untuk memasukan peralatan sekolahnya dalam tas atau minta anak makan sendiri. Dengan mengajarkan anak beberapa hal ini, perlahan namun pasti ini akan tertanam menjadi kebiasaan sehingga ketika di sekolah si anak tidak akan terus-menerus bergantung pada guru dan teman-temannya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”2. Ajarkan Si Buah Hati Rasa Tanggung Jawab”]Untuk mengajari anak rasa tanggung jawab sederhana saja, misalkan ketika anak bermain dengan peralatan mainannya, maka mintalah ia untuk kembali merapihkan mainannya setelah ia selesai bermain. Atau minta anak untuk kembali menutup kamar mandi setelah ia gunakan. Dengan mengajarkan beberapa hal ini, anak akan dengan otomatis memiliki rasa tanggung jawab atas segala hal yang ia lakukan. Yang mana, hal ini penting mereka terapkan di sekolah. Ketika anak-anak bermain dengan teman-temannya, anak akan lebih mudah untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Dan meskipun ia melakukan hal tersebut, maka si anak akan dapat bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”3. Kenalkan Anak Makna Sekolah”]Saat anda meminta anak melakukan sesuatu, anak perlu tahu alasan mengapa mereka harus melakukan hal tersebut. Dengan begini, si anak akan dapat menangkap makna dan maksud dari apa yang anda perintahkan, termasuk saat anda meminta mereka untuk bersekolah. Beritahukan pada anak akan pentingnya sekolah, fungsi dari anak bersekolah dan apa tujuan dari sekolah itu. Hal ini tentunya, bisa dilakukan ketika anda bersama dengan anak memiliki waktu berdua. Sampaikan hal ini dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Selain itu, buat anak mendengarkan dan tertarik dengan obrolan ini, agar makna dan tujuan anda bisa didapatkan oleh si anak dengan lebih baik.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”4. Mengunjungi Sekolah Sebelumnya”]Sebelum si anak benar-benar menghadapi hari pertamanya bersekolah. Akan lebih baik jika ibu membawa serta si buah mengunjungi sekolah. Perlihatkan pada anak ruangan-ruangan sekolah dan tempat bermainnya. Hal ini akan memudahkan si anak untuk bisa terbiasa dengan lingkungannya yang baru. Dalam hal ini, anda bisa membawa serta buah hati anda mengunjungi sekolahnya saat anda harus melakukan registrasi atau pendaftaran ke sekolah sembari memperkenalkan si buah hati dengan lingkungan belajarnya nanti.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”5. Perkenalkan Anak Pada Calon Gurunya”]Terkadang, sosok seorang guru bisa jadi sosok yang menyeramkan untuk si anak. Hal ini biasanya mereka pelajari dari lingkungan teman-teman yang usianya lebih tua dari si anak, dimana teman-temannya tersebut sudah bersekolah dan seringkali menceritakan tentang sekolah dan bagaimana sikap guru yang galak. Selain itu, umumnya adaptasi anak-anak dari tayangan televisi seolah membuat predikat seorang guru menjadi begitu buruk dibenak si anak. Nah, untuk menepis segala ketakutan dan kecemasan ini dalam diri anak, maka tidak ada salahnya kenalkan si anak terlebih dahulu pada calon gurunya. Ketika si anak melihat calon gurunya adalah sosok yang ramah, maka segala ketakutan tersebut bisa mereka hilangkan.[/x_accordion_item]

Anak-anak yang akan menghadapi hari pertama masuk sekolah seringkali membuat orangtua merasa cemas. Selain itu, kecemasan yang sama pun akan mungkin dihadapi oleh si anak. Untuk itu, atasi segala kecemasan ini dengan mempersiapkan mental dan fisik si anak dengan cara di atas. Semoga tips ini bermanfaat.

Sebelum Mendaftarkan Anak Pendidikan Usia Dini, Berikut Tips Persiapan yang Bisa Dilakukan

Sebelum Mendaftarkan Anak Pendidikan Usia Dini, Berikut Tips Persiapan yang Bisa Dilakukan

Bunda, si kecil sudah semakin besar ya sekarang.

Duh..duh…duh… ia juga sekarang sudah semakin cerewet serta rasa ingin tahunya menjadi sangat besar. Melihat teman-temannya yang berusia lebih besar darinya sudah bersekolah, kini ia pun seringkali merengek ingin ikut sekolah. Alasannya pun beragam dari mulai sudah adanya minat dan ketertarikannya dalam diri si kecil atau mungkin karena si buah hati seringkali merasa kesepian saat teman-temannya yang lain pergi ke sekolah. Nah, demikian tidak ada salahnya jika ditahun ajaran baru ini bunda memasukannya ke playgroup.

Tahun ajaran baru kini hampir tiba. Setelah anak-anak menjalani masa liburan semester yang begitu panjang, kini mereka akan kembali disibukkan dengan segala rutinitas pagi dan kegiatan sekolahnya. Si kakak yang biasanya bangun siang dan selalu ada dirumah menemani si adik bermain, kini ia harus kembali bangun pagi dan pergi ke sekolah. Tak ayal, kebiasaan si adik yang senantiasa bersama dengan si kakak dan bermain berdua, kini akan mulai menampakan wajah yang murung, cemberut dan bahkan seolah nampak gelisah. Pada akhirnya, si buah hati akan mulai merengek dan menjadi begitu rewel.

Nah, jika sudah begini mungkin sudah saatnya anda mendaftarkan si kecil ke playgroup agar mereka bisa belajar dan mendapatkan pendidikan usai dini.

Ya, pendidikan usia dini playgroup atau yang saat ini dikenal dengan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) merupakan kelompok bermain pada satuan pendidikan anak usia dini. Untuk anak-anak yang menempuh pendidikan ini, biasanya mereka hanya akan menempuh waktu setengah hari dalam belajar. Namun, ada pula beberapa playgroup yang menyelenggarakan pendidikannya lebih dari setengah hari saja. Selain itu, umumnya anak-anak yang dikirim ke playgroup kebanyakan siswa yang berasal dari kedua orangtua yang bekerja. Sehingga rutinitas anak dari pagi hari hingga sore dijemput orangtuanya di sekolah.

Para staff yang ada di playgroup akan mendampingi anak-anak dalam bermain, belajar, tidur siang dan lain sebagainya. Adapun rentang anak-anak yang sudah mulai dikirim ke playgroup yakni usia 2-4 tahun.

Memang sudah banyak anak-anak di zaman saat ini yang dikirim ke playgroup, mempersiapkan anak-anak dengan pendidikan sedini mungkin memang sudah sepantasnya diberikan oleh orangtua. Anak-anak yang diberikan pendidikan sejak usia mereka masih dini akan memberikan pondasi yang lebih kuat untuk mempesiapkan si kecil dalam menghadapi dunia pendidikan yang sesungguhnya. Dengan begini, saat mereka mulai berskolah di sekolah formal, maka mental si anak akan mulai terbiasa dengan kondisi dan lingkungan pendidikan sehingga akan mudah untuknya bisa beradaptasi.

Akan tetapi, sebelum si kecil memulai pendidikan usia dininya, pastikan bahwa mereka tahu terlebih dahulu apa saja yang akan mereka hadapi di sekolahnya tersebut. Dengan begini, setidaknya si kecil akan memiliki gambaran dan menentukan sendiri bagaimana mereka bisa bertindak.

Berikut ini beberapa hal yang bisa anda terapkan pada si kecil sebelum mereka didaftrakan ke lembaga pendidikan usia dini.

[x_accordion_item title=”1. Pilih Playgroup yang Mengajarkan Nilai Kesopanan”]Memilih dan mendapatkan playgroup yang tepat adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Hal ini tentunya dimaksudkan agar si kecil merasa aman, nyaman dan tenang. Bukan saja itu, selain bermain dan bersosialisasi, playgroup pun sudah semestinya mengajarkan nila-nilai dan norma kesopanan pada diri murid didiknya. Hal ini tentunya, dijadikan difungsikan agar si kecil mendapatkan nilai kesopanan sehingga pribadi yang baik dan moral dapat terbentuk dalam diri si buah hati.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”2. Membentuk Kebebasan dalam Diri Anak”]Seorang direktur sekolah usia dini di Florida AS, mengatakan bahwa sebelum orangtua mengirim anak-anaknya ke playgroup, maka penting bagi mereka mengajarkan pada anak-anaknya untuk memahami kebebasannya dalam dirinya serta mengembangkan kemampuan dasar si buah hati untuk merawat dirinya. Seperti misalkan anak-anak bebas untuk melakukan beberapa hal yang menyangkut perawatan dirinya yakni seperti mencuci tangan, menutup resleting tas atau bahkan menutup mulutnya saat ia bersin. Hal ini semata-mata penting dilakukan agar anak-anak tahu dimana dan sampai mana batas kebebasan yang ia miliki.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”3. Mempersiapkan Emosi Anak”]Sudah bukan rahasia yang tabu, jika anak-anak memang seringkali sulit untuk diataur. Ketika diberikan peraturan sebagian besar anak-anak yang aktif seperti tak peduli dengan peraturan tersebut dan malah mengabaikannya. Akan tetapi, sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban para orangtua untuk dapat menemukan solusi bagaimana mendisiplinkan anak-anaknya untuk dapat menghormati segala peraturan yang diberikan oleh sekolahnya. Dengan si anak belajar untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih baik akan membantu si buah hati dalam proses belajarnya si sekolah. Selain itu, hal ini pun akan memberikan kemampuan penting dalam kehidupannya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”4. Kembangkan Rasa Sosial dalam Diri Anak”]Sekolah usia dini, umumnya belum terfokus pada bagaimana mengembangkan kemampuan akademis si murid, akan tetapi lebih berpacu pada bagaimana mengembangkan kemampuan si anak untuk dapat bersosialisasi dan mengembangkan rasa sosialnya. Rasa sosial yang akan diberikan pada pendidikan anak usia dini, antara lain adalah berbagi kepada teman, berpartisipasi, memanfaatkan giliran dan lain sebagainya. Untuk itu, berikan sedikit gambaran pada anak bagaimana mereka belajar hal tersebut. Ajarkan pada anak bagaimana mengucapkan terimakasih, memberikan salam dan pelajaran lain tentang bagaimana mereka mengungkapkan rasa hormat terhadap oranglain.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”5. Mempersiapkan Kosakata Dasar”]Penting sekali memberikan dan mempersiapkan kosakata pada si anak yang akan memasuki pendidikan usia dini. Meski kita menganggap di sekolah si anak akan diajarkan hal ini, akan tetapi ini bukan berarti membuat anda melepaskan tanggung jawab untuk tidak mempersiapkan pelajaran kosakata sederhana pada si anak. Hal ini bisa dilakukan oleh orangtua dengan berbicara dengan topik yang akan menarik perhatian anak, berdiskusi dengan menu makan malam dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, kosakata sederhana yang juga penting diberikan kepada anak-anak adalah membuat si anak mengingat alamat rumahnya, nama jalan rumahnya, nama orangtuanya dan lain sebagainya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”6. Berikan Ilmu dengan Metode yang Menyenangkan”]Terkadang, adakalanya si kecil diberikan pekerjaan rumah yang sederhana dari sekolahnya. Umunya, PR ini hanya akan seputar bagaimana menghafal huruf abjad, menulis dan lain sebagainya. Nah untuk itu, mau tidak mau anda sebagai orangtua harus mampu membantu mereka menyelesaikan pekerjaan rumah ini. Hanya saja, usia anak yang masih begitu kecil membuat mereka cenderung mudah bosan dan ketika rasa bosan ini menghinggapinya mereka malah akan berlalu begitu saja dan sulit untuk diminta kembali melakukan pekerjaan sebelumnya. Untuk itulah, orangtua harus mampu menemukan cara bagaimana memberikan ilmu dan membantu si kecil belajar dengan cara yang menyenangkan. Dibandingkan dengan menyuruh si kecil menghafal angka atau alfabet, akan lebih baik jika anda membawa si kecil ke luar rumah untuk berjalan-jalan dan memperkenalkan benda yang ada kaitannya dengan ilmu yang harus mereka pelajari. Seperti belajar warna dari tiang lampu merah jalanan dan lain sebagainya.[/x_accordion_item]

Sebelum mendaftarkan si kecil ke pendidikan anak usia dini adalah penting sekali bagi orangtua mempersiapkan banyak hal. Beberapa poin diatas adalah segelintir tips penting yang perlu orangtua perhatikan sebelum mereka memutuskan mengirim anak-anaknya ke sekolah usia dini.

Ketahui Beberapa Cara Ungkapan Sayang dan Cinta Buah Hati Pada Anda

Ketahui Beberapa Cara Ungkapan Sayang dan Cinta Buah Hati Pada Anda

Memiliki buah hati ditengah-tengah keluarga tercinta yang begitu anda banggakan, tentu menjadi kebahagian yang besar.

Apalagi kehadiran si buah hati ini adalah doa panjang yang lewat perjuangan keras baru saja anda dapatkan. Tentu saja, cinta anda kepada si buah hati akanlah sangat besar. Tak heran jika anda akan begitu sangat memperhatikan dan mengawasi si buah hati dengan sangat seksama. Cinta yang begitu besar kepada si buah hati inilah yang membuat anda akan merasa khawatir jika si kecil berada dalam bahaya atau ada suatu hal yang bisa mengancam keselamatannya.

Selain itu, sebagai orangtua, kita tentu ingin jika buah hati yang begitu kita kasihi juga memiliki rasa yang sama terhadap diri kita sebagaimana kita mencintai mereka dengan begitu besar. Akan tetapi, anak-anak terutama anak bayi tentu saja belum dapat mengungkapkan perasaan dan kasih sayangnya lewat kata-kata.

Nah, saat hal ini terjadi pernahkah terlintas dalam benak anda sebuah perasaan dimana anda merasa apakah si kecil tidak mencintai anda sebagai orangtuanya? Ataukah karena sikap si kecil yang seringkali rewel pada saat yang tidak tepat seperti anda sedang lelah, pusing atau bahkan stress, membuat anda meragukan kasih sayang mereka terhadap anda? Dan pernahkan anda ingin mengetahui cinta kasih dari si buah hati, meski mereka belum bisa mengungkapkannya dalam kata-kata? Jangan khawatir ataupun risau, meski perilaku si buah hati seringkali menunjukan kekesalan atau rewel saat anda sedang dalam kondisi yang stress. Namun ini bukan berarti mereka tida mencintai anda.

Sebagai anak, rasa cinta mereka terhadap anda tentu saja besar, bisa dibilang rasa cinta yang mereka miliki hanyalah dicurahkan untuk anda. Akan tetapi mereka hanya belum bisa menunjukannya dan mengekspresikannya dengan ungkapan yang tepat. Untuk membuktikan hal ini anda bisa melihat ketika si kecil ditinggal atau saat mereka bangun dari tempat tidur dan tak mendapati anda berada disamping anda, mereka akan langsung menangis. Hal inilah yang menjadi bukti bahwa mereka mencintai anda dan hanya anda yang mereka inginkan. Untuk itu, jangan pernah meragukan besarnya kasih sayang dan cinta mereka terhadap kita.

Berikut ini kita pelajari beberapa cara yang dilakukan anak-anak untuk mengungkapkan cinta terhadap orangtuanya.

[x_accordion_item title=”1. Untuk Bayi Baru Lahir”]Banyak ibu yang begitu menggagumi dan jatuh cinta pada bayi baru lahir, terutama buah hati yang baru saja mereka lahirkan kedunia. Hal ini tentu saja, sebagai wujud dari rasa cinta mereka yang begitu besar pada si anak yang dengan susah payah mereka lahirkan. Akan tetapi, disamping itu pula tidak sedikit orangtua yang berpikir akankah cinta yang berikan kepada buah hatinya sama besarnya dengan perasaan yang akan dirasakan oleh si buah hati terhadap anda. Bayi baru lahir tentu saja belum dibekali kemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan apa yang ia rasakan dan masih banyak lagi yang belum ia kuasai. Untuk itulah, untuk mengetahui hal ini anda bisa mengenali beberapa cara yang dilakukan si buah hati dalam rangka menunjukan rasa cintanya kepada anda. Bayi yang baru lahir mengungkapkan cinta dan rasa membutuhkan anda lewat sebuah tatapan mata. Hal ini pun tentu tidak dilakukan dengan mudah, diperlukan kerja keras untuk si bayi dalam menghafal wajah dan perawakan anda. Mereka belum paham betul mengenai dunia yang ada di sekeliling mereka, namun mereka tahu bahwa anda (dalam hal ini adalah ibu) adalah hal yang sangat penting baginya. Untuk itu, cintai dan kasihi buah hati anda dengan tanpa syarat, meskipun sebuah ungkapan cinta yang dilakukan si bayi terbilang cara yang begitu sederhana, namun dibutuhkan kerja keras untuk mereka untuk bisa melakukan hal tersebut.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”2. Untuk Bayi Berusia 8-12 Bulan”]Bayi dengan usia ini akan mulai memberikan respon ketika anda berada jauh dari mereka. Misakan ketika anda meninggalkan mereka meski hanya beberapa saat dan jarak yang begitu dekat, si anak akan menunjukan ekspresi wajah tidak suka dan kesal ketika melihat sekeliling mereka. Alhasil, saat mereka menyadari anda tak ada disamping mereka, maka dengan seketika si anak akan menangis atau bahkan mengamuk jika anda tak segera hadir. Bahkan ketika oranglain yang masih terikat hubungan keluarga bersama dengan si anak, mencoba membujuknya. Mereka masih akan menolak dan hanya menginginkan anda seorang. Dari sini tentunya sudah jelas, bahwa buah hati anda hanya akan merasa aman bila bersama anda dan kasih sayangnya tentu saja tercurah hanya untuk anda.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”3. Untuk Anak-Anak Balita”]Berbeda dengan anak di dua usia sebelumya, anak-anak berusia balita sudah mulai memiliki kemampuan untuk berpikir. Biasanya, anak-anak balita akan mengalami tantrum dimana dalam kondisi seperti ini amarahnya akan meledak dan amukannya bisa sangat membuat anda pusing. Mereka pun akan cenderung sering marah dan ngambek serta mengatakan “Aku benci ibu” atau kata-kata yang sejenis dengan hal ini. Akan tetapi, tak perlu khawatir, kata-kata ini hanya diungkapkan sebagai bentuk kekesalannya saja. Selain itu, emosi yang meledak pada si kecil bentuknya hanyalah sementara, dalam beberapa saat ia akan kembali mengakrabi orangtuanya. Meski kata-kata yang dilontarkan bernada seperti membenci, namun dalam hatinya, tetap saja ia begitu mencintai anda dan membutuhkan anda.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”4. Saat Balita Mengungkapkan “Aku Sayang Ibu””]Anda mungkin sering mendengar buah hati anda mengatakan “aku sayang ibu”, hanya saja dalam penyampaian kalimat ini anda seirng mendapati mereka tidak memaknainya dengan baik, seperti misalkan berteriak, menyatakan dengan keras atau bahkan meneriakan kata ini sebagai lelucon. Anak-anak dalam usia ini mungkin masih belum paham makna ungkapan cinta, termasuk ungkapannya terhadap anda, sehingga tak heran hal ini akan dilakukannya dengan tidak serius. Namun jangan dipikirkan terlalu mendalam, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, si anak akan mulai mengerti dan memahami apa yang mereka katakan.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item]Biasanya anak-anak yang mulai masuk usia sekolah akan mendapatkan bimbingan dari guru mereka disekolah tentang bagaimana mencintai, menyayangi dan menghormati orang tua. Selain itu, mereka pun akan mendapatkan pendidikan bagaimana mencintai orangtua dan menunjukan sikap cintanya kepada orangtua. Untuk itu, jangan heran jika anak akan memberikan bunga atau kartu ucapan yang didalamnya terbersit kata sayang untuk kita. Meski hal ini baru dipelajari mereka dan baru diketahuinya, namun tetap saja usahanya dalam melakukan hal ini adalah bentuk cinta nyata untuk kita. Yang mana hal ini tentunya harus kita hargai.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”6. Untuk Anak-Anak Usia Prasekolah”]Nah, untuk anak-anak usia ini cara yang ditunjukan si buah hati dalam mengungkapkan rasa sayangnya akan mulai lebih tertata dan berkesan. Mereka cenderung lebih ingin menunjukan kemampuan dan bakat mereka yang akan membuat anda terkesan. Seolah mereka ingin mengungkapkan, “Lihat aku, bu!”. Percayalah ini adalah tanda cintanya kepada anda yang begitu besar, karena ia ingin membuat anda merasa bangga padanya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”7. Untuk Anak-Anak yang Usianya Lebih Besar”]Berbeda dengan usia pada saat mereka kanak-kanak, anak-anak yang sudah menginjak usia lebih besar seperti usia remaja akan cenderung pemalu dan lebih senang merahasiakan kasih sayangnya. Di usia ini, anak akan cenderung menunjukannya dengan aksi seperti membuat anda bangga pada mereka dibandingkan hanya mengumbar kata-kata sayang. Selain itu, anak-anak remaja akan cenderung lebih merasahasiakan banyak hal, termasuk kegagalan dan kesalahannya. Hal ini tentunya semata-mata mereka lakukan agar perasaan bangga anda terhadap mereka tidak hancur. Nah, dari sini tentunya sudah jelas bahwa dengan begitu esarnya rasa cinta anak sampai mereka tak mau mengecewakan anda.[/x_accordion_item]

Terkadang orangtua merasa bingung untuk mengetahui apakah anak yang mereka besarkan memiliki rasa cinta yang besar terhadap ayah dan ibunya. Untuk itulah, mengetahui beberapa cara anak mengungkapkan cinta pada orangtua, diharapkan mampu menjawab rasa penasaran anda.

Ketahui Nilai Lebih Saat Anak Laki-Laki Lebih Dekat dengan Ibunya

Ketahui Nilai Lebih Saat Anak Laki-Laki Lebih Dekat dengan Ibunya

Anak laki-laki yang cenderung menjalin kedekatan yang lebih bersama dengan ibunya dibanding dengan ayah mereka, seringkali dijuluki dengan “anak mama”.

Predikat “anak mama” pada anak laki-laki seringkali diidentikan dengan sesuatu yang kurang indah. Lain halnya dengan julukan “anak papa”. Julukan ini umumnya sering tergambar sebagai seseorang yang hebat, maskulin, berjiwa tangguh seperti sering bermain dan menghabiskan waktu dengan ayahnya yang membuat mereka terlihat seolah benar-benar hebat.

Akan tetapi, ketika anak laki-laki mendapatkan julukan “anak mama”, julukan ini seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan. Anak laki-laki yang cenderung lebih dekat dengan ibunya dan meniru segala pekerjaan ibunya dirumah, seperti halnya belajar memasak, mencuci pakaian sendiri atau bermain peran dengan boneka. Tak sedikit orang yang akan mengeryitkan dahinya dan merasa seolah anak laki-laki seperti ini dianggap kurang maskulin.

Apalagi sewaktu si ibu seringkali dibuat khawatir ketika anak laki-lakinya berada jauh dari si ibu. Tak pelak, akhirnya si ibu sering mengunjungi si anak atau terus-terusan menanyakan kabar putranya. Dari sinilah, tak perlu menunggu lama streotip “Anak Mama pun” langsung akan melekat erat pada diri si anak.

Saking dihindarinya, bahkan di beberapa daerah ada nasihat yang menyatakan agar anak laki-laki tidak terlalu dengan dengan ibunya dan para ibu tak perlu terus-terusan mengkhawatirkan anak mereka dimana pun mereka berada dan kemana pun perginya mereka. Sikap ibu yang seringkali menanyakan kabar atau memanjakan anak laki-lakinya dengan kasih sayang dianggap sebagai perilaku yag mengekang, terlau melindungi atau bahkan memanjakan si anak. Yang membuat si anak laki-laki pada akhirnya tak bisa mandiri sejak dini. Hal ini tentu saja terjadi dikarenakan anak laki-laki seringkali digambarkan sebagai sosok yang gagah berani, kuat, tanggu dan juga bebas. Untuk itulah, seringkali terasa aneh bagi masyarakat bila anak laki-laki mengerjakan tugas rumah tangga.

Akan tetapi, kita semua paham betul bahwa memberikan predikat pada anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya dengan sebutan “anak mama” bukanlah sikap yang bijak. Kita semua tahu, bahwa apapun jenis kelamin si anak, baik laki-laki maupun perempuan, semua anak akan tumbuh dengan baik apabila mereka memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya. Bahkan sebuah studi yang dilakukan pada pengamatan terhadap sebanyak hampir 6000 anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ibu mereka menunjukan bahwa terjadi perkembangan sikap yang lebih destruktif dan agresif pada anak-anak. Dalam studi ini para peneliti mengungkapkan bawa anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ibu mereka akan berpengaruh pada pembentukan kepribadiannya. Anak-anak akan membawa rasa takut terhadap kedekatan dan cenderung menjadi pembangkang saat mereka dewasa kelak.

Untuk itulah, menghadirkan sosok ibu dan menjalin kedekatan dengan anak secara lebih intens sewaktu mereka masih kecil adalah hal yang penting. Selain itu ada banyak nilai lebih ketika hubungan anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya.

Apa sajakah nilai lebih itu? Kita simak berikut ini.

[x_accordion_item title=”Memunculkan Kecerdasan Emosi dan Rasa Empati Pada Anak”]Kedekatan yang dijalin ibu bersama dengan anak laki-laki mereka sewaktu mereka masih kecil akan membuat si anak bebas mengenali dan mengeksprsikan emosinya. Dengan kasih sayang yang diberikan oleh si ibu, kelak anak-anak pun akan lebih peka pada rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Begitu pula saat mereka melihat emosi tertentu yang ditunjukan oleh oranglain sehingga akan lebih mudah baginya untuk berempati karena ia memahami betul bagaimana perasaa orang lain tersebut. Hal ini pun akan membuat si anak mudah mendapatkan teman dilingkungannya, karena ia dibekali dengan kemampuan untuk membaca perasaan dan kondisi lingkungan sekitarnya karena rasa peka yang lebih dalam yang mereka dapatkan dari ibu mereka.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Memiliki Paham yang Seimbang Mengenai Maskulinitas”]Berbeda dengan anak laki-laki yang lebih dekat dengan ayah mereka dibandingkan dengan ibunya. Anak laki-laki yang dekat dengan ibu sejak mereka masih kecil akan memiliki pandangan yang berbeda mengenai maskulinitas. Anak laki-laki yang lebih dekat dengan si ayah mungkin akan memaknai bahwa bersikap dingin, tegas, gagah adalah bagian dari maskulinitas. Akan tetapi, jika anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya, mereka akan lebih memaknai bahwa definisi dari maskulin tersebut tidaklah harus gagah, dingin atau tegas. Namun lebih kepada bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Hal ini tentunya akan berguna bagi mereka dimasa depan, apalagi saat mereka sudah berumah tangga. Tanggung jawab mereka terhadap keluarga tentunya akan lebih besar.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Lebih Menghargai Perempuan”]Seringkali seorang pria sulit dalam memahami seorang perempuan. Hal ini tentunya dilatar belakangi karena sensitifitas seorang pria berbeda dengan wanita. Nah, untuk mengerti seorang wanita, maka seorang pria setidaknya harus mengetahui bagaimana cara pandang dan isi hati wanita itu sendiri agar mereka lebih mudah memahami perempuan. Nah, bagi anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya, kemampuan ini akan dengan mudah mereka dapatkan, karena secara tidak langsung waktu yang mereka habiskan bersama dengan ibunya akan membuat mereka memiliki gambaran bagaiman seorang wanita untuk bisa dimengerti.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Memiliki Kesempatan Lebih Sukses Dalam Pekerjaan”]Kondisi ekonomi saat ini rupanya lebih cenderung membutuhkan pekerja dengan kemampuan komunikasi yang kuat dan kecerdasan emosi yang tinggi untuk memahami keinginan klien dibandingkan dengan kemampuan fisik dan sikap kepemimpinan bak seorang pejuang. Untuk itulah, anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya tentu akan dengan mudah mendapatkan hal ini berdasarkan pengalaman yang ia dapatkan dari ibunya sendiri.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Kesempatan Mendapatkan Nilai Akademik yang Lebih Tinggi”]Sebuah penelitian yang melibatkan sebanyak hampir 400 orang anak usia sekolah menengah umum di kota New York mengindikasikan bahwa anak laki-laki yang memiliki kedekatan dan jalinan yang lebih dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya, terbukti menjadi anak-anak yang tidak mudah dirundung dengan rasa panik, cemas dan juga depresi. Oleh karena itu, sewaktu mereka diberikan masalah atau test secara mendadak, rasa panik lebih bisa mereka redam dan mereka mampu berfokus pada bagaimana caranya berhasil dan menyelesaikan test tersebut lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menjalin kedekatan dengan ibu mereka sama sekali.[/x_accordion_item]

Memberikan predikat pada anak laki-laki yang memiliki kedekatan lebih pada ibu mereka dengan sebutan “anak mama” tentunya bukanlah hal yang bijak. Pada kenyataannya, ada begitu banyak nilai lebih yang bisa mereka dapatkan dari dekat bersama dengan ibu. Akan tetapi ini pun tidak berarti mendukung bahwa seorang laki-laki deasa harus berpaling kepada ibu mereka saat mereka menghadapi masalah. Karena bagaimanapun, hal ini bukanlah hal yang sebijaknya terjadi ketika mereka menghadapi masalah.  Semoga artikel ini bisa memberikan pengetahuan dan bermanfaat untuk ibu semua dalam mendidik anak-anaknya dirumah.

Tips Agar Anak-Anak Tak Berebut Barang

Tips Agar Anak-Anak Tak Berebut Barang

Adalah hal yang wajar, ketika si kakak dan si adik berebut barang, si adik kecil seringkali menangis dan berteriak, begitupun dengan si kakak. Akan tetapi, tak bijak jika ibu terus-terusan menyepelekan hal ini dengan tidak melakukan apa-apa. Orangtua perlu menjadi penengah dalam pertengkaran anak dan dituntut untuk bisa berlaku bijak menyikapi perselisihan ini.

Agar ibu bisa mengatasi anak-anak yang seringkali berebut barang atau mainan. Kali ini kami akan berikan tips mudah agar mereka tak lagi berebut mainan dan tidak terjebak dalam perselisihan yang tiada akhirnya.

[x_accordion_item title=”Bersikap Objektif Terhadap Anak-Anak”]Ketika ibu mendapati anak-anak sedang berselisih karena berebut mainan, maka jangan lantas menyalahkan salah satu anak yang paling tua untuk mengalah dan membela si kecil dengan alasan adiknya masih begitu kecil untuk memahami semua itu. Sebaiknya, tanyakan terlebih dahulu pangkal permasalahannya pada salah satu. Dan tanyakan pada yang lain apakah benar demikian atau tidak. Dari sinilah anda akan tahu apa yang harus anda lakukan selanjutnya. Jika barang tersebut memanglah milik si kakak, maka mintalah anak anda yang paling kecil untuk memberikan pada kakaknya. Setelah itu, ajak anak yang paling kecil untuk ikut bersama anda. Dari sini, anda bisa memberikan pengertian pada anak anda yang masih kecil, bahwa mereka harus belajar menghargai milik oranglain. Hal ini tentunya bukan hanya berlaku saat anak menggunakan atau berusaha mengambil barang si kakak saja, namun juga barang-barang miliki orang lain.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Jangan Memaksa”]Ketika anak bermain dengan teman-temannya atau saudaranya, sebaiknya jangan pernah memaksa anak untuk membagi semua yang ia miliki. Biarkan anak memilih sendiri mainan atau barang mana yang ingin ia mainkan bersama dengan oranglain. Dengan begini, anak juga akan belajar bahwa tidak semua hal bisa ia bagi dengan orang lain. Selain itu, ketika anak mengikuti nalurinya sendiri untuk dapat memilih apa yang boleh ia bagi, maka ia akan dapat memberikannya dengan lebih lapang dada. Sehingga tidak ada alasan untuknya bisa merebut barang tersebut secara paksa dari teman atau saudaranya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Berikan Aturan yang Tegas Pada Anak”]Salah satu cara untuk menghindari perselisahan karena berebut barang pada anak adalah dengan memberikan atau memberlakukan aturan yang tegas pada anak-anak. Hanya saja, tentunya aturan tersebut sesuai dengan usia anak. Jangan sampai anda memberlakukan aturan yang tagas dengan sanksi yang kejam seperti memukul anak, mengurung anak dan lain sebagainya. Yang terpenting dari poin ini adalah membuat anak jera atau merasa takut merebut barang milik oranglain karena anda telah membuat kesepakatan sebelumnya dengan si kecil. Dengan demikian, perselisihan dan pertengkaran pada anak bisa dihindari.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Tunjukan Sikap Pengertian”]Ketika anak mengadukan teman atau saudaranya merebut mainan sendiri atau mereka tidak ingin berbagi dengan anak anda, anda lantas mengatakan “Sudah, biarkan saja.” Kata-kata ini justru akan lebih menunjukan bahwa anak juga diajarkan untuk mengabaikan perasaan dan keinginannya untuk memainkan sebuah barang. Untuk itu, sebaiknya tanggapi curahan hati anak dan tanyakan dulu pada temannya mengapa ia tidak ingin berbagi permainan tersebut atau mengapa ia merebut mainannya. Dengan begini, anak-anak akan merasa dihargai dan diperhatikan.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Ajak Anak Bersosialisasi”]Teori mengajarkan anak agar mau berbagi tidak hanya cukup membuat anak mengerti. Pada akhirnya, anak-anak pun akan membutuhkan praktek yang jelas yang akan membuatnya mengalami hal tersebut. Untuk itulah, ibu bisa mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan bermain anak yang baru dimana didalamnya terdapat anak-anak sesuai dengan anak anda, seperti misalkan playgroup atau taman kanak-kanak. Disini anak-anak akan langsung mengalami sendiri bagaimana berbagi dan tidak saling berebut. Mintalah anak-anak untuk bisa berbagi dengan teman dan sahabat-sahabatnya agar mereka bisa bermain bersama dan menikmati hari-harinya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Berikan Contoh yang Baik”]Dalam segala hal orangtua adalah figur yang akan senantiasa ditiru oleh anak-anaknya. Baik dalam segi perilaku maupun sifat. Untuk itulah, orangtua harus mampu memberikan contoh yang baik dan menjadi tauladan untuk anak-anaknya. Ketika anda menginginkan anak-anak tidak selalu berebut barang atau mainan dengan teman-teman dan saudaranya, maka ajarkan pula konsep berbagi dengan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begini, anak-anak secara tidak langsung aka menyerap dan mempraktikan apa yang mereka lihat dari kedua orangtuanya.[/x_accordion_item]

Dunia anak adalah dunia bermain yang dihiasi dengan keceriaan. Akan tetapi, ketika keceriaannya terenggut karena sikap anak-anak saling berebut barang, tentu saja hal ini akan membuat kita kewalahan menghadapi anak-anak. Nah, beberapa tips diatas diharapkan mampu membantu ibu mendapatkan solusi agar anak-anaknya tak selalu berebut barang dengan saudara atau teman-temannya.

Jadi Orangtua Pintar, Kenali Beberapa Anggapan Keliru Anak Pada Pola Asuh Orangtua

Jadi Orangtua Pintar, Kenali Beberapa Anggapan Keliru Anak Pada Pola Asuh Orangtua

Sebagai orangtua, sudah tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Tidak ada orangtua yang rela jika buah hati yang telah dengan susah payah mereka lahirkan kedunia tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang besar dari kedua orangtuanya. Untuk itulah, orangtua akan dengan rela mengusahakan segala cara dan upaya untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak peduli susah, tak menghiraukan kesulitan, dan mengabaikan rasa letih adalah pengorbanan besar yang diberikan orangtua sebagai wujud kasih sayang yang tiada tara untuk buah hati yang mereka cintai. Segala pengorbanan dan perjuangan mereka lakukan semata-mata demi sang anak agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah.

Akan tetapi, perjuangan berat yang begitu panjang ini bukan berarti dijalani oleh orangtua dengan tanpa ada rintangan dan halangan. Selalu ada saja hambatan dan halangan yang menghiasi perjuangan itu. Namun demikian, hal tersebut tak serta merta membuat upaya orangtua dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya terhenti ditengah jalan dan memutuskan untuk tidak lagi mencintai sang buah hati.

Begitupun saat bunda mengasuh anak-anaknya. Meskipun orangtua sudah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberikan pola pengasuhan yang terbaik. Namun, tak bisa dipungkiri, terkadang ada saja hambatan yang datang. Salah satu hambatan tersebut adalah dengan hadirnya kesalah pahaman anak dalam menangkap maksud dan tujuan pola pengasuhan yang diberikan oleh orangtuanya yang dilihat dari sudut pandang yang keliru. Akan tetapi, kita tidak bisa menyalahkan anak-anak apabila mereka memiliki persepsi yang keliru dalam menangkap pola pengasuhan orangtuanya.

Anak-anak masih memiliki kemampuan penalaran yang belum matang sehingga sulit  bagi mereka untuk dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi keinginan mereka. Terkadang, apa yang diberikan oleh orangtuanya dianggap sebagai sesuatu yang dapat menyalurkan keinginan mereka.

Jika kekeliruan yang terjadi pada anak-anak terus dibiarkan tanpa dicari solusinya. Maka, dikhawatirkan hal ini akan mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian dalam diri si anak. Yang mana, jika kepribadian yang dibentuk menuju pada sesuatu yang negatif, hal ini malah akan tertanam dalam diri mereka dan terbawa hingga anak-anak dewasa. Anda tentu tidak ingin, jika pada akhirnya apa yang anda ajarkan pada si kecil membuat kekeliruan dalam diri mereka dan membuat mereka kesulitan berbaur dan bersosialisasi dengan lingkungannya bukan? Untuk itulah, cari segera solusi jika anda mulai menemukan pertanda anak-anak menangkap kekeliruan pada pola pengasuhan yang anda berikan.

Untuk itu kita kenali terlebih dahulu hal apa saja yang bisa menjadi anggapan keliru anak pada pengasuhan orangtua.

[x_accordion_item title=”Membeli Barang Untuk Dapatkan Lebih Banyak Uang”]Ketika anak-anak sudah cukup usia untuk diberikan uang jajan. Maka ajarkan pula mereka bagaimana mengelola keungan dengan bijak. Memberikan uang jajan pada anak, bukan berarti mengajarkan anak-anak untuk boros dan berfoya-foya. Justru sebaliknya, dengan diberikan uang jajan, anak-anak diajarkan bagaimana mengemban sebuah amanat dengan tanggung jawab yang besar. Pada umumnya, anak-anak akan berpikiran bahwa uang kembalian nampak jauh lebih banyak daripada uang yang mereka belanjakan. Sehingga hal inilah yang membuat mereka seringkali menghabiskan uang jajan yang diberikan oleh orangtuanya karena mereka berpikir setelah dibelanjakan, mereka akan mendapatkan lebih banyak uang. Jika hal ini terjadi, maka menjadi tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pehaman pada anak. Buat anak-anak mengerti nominal uang dan mengenal jumlah uang. Selain itu, ajarkan pula mereka untuk membelanjakan keungannya pada hal-hal yang dianggap perlu bukan sesuatu yang bersifat boros.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Waktu Tidur Adalah Waktu Perpisahan”]Ketika meminta anak-anak untuk beristirahat dimalam hari dengan memintanya segera tidur, seringkali orangtua dibuat kesulitan. Tahukah anda, mengapa demikian? Terkadang anak-anak merasa bahwa tidur dimalam hari membuat mereka terpisah selama berjam-jam dari orangtuanya. Hal inilah yang pada akhirnya membuat mereka mempertahankan diri sebisa mungkin agar tidak tidur cepat untuk menghindari perpisahan atau dipisahkan dari anda. Untuk itulah, jangan heran, meskipun anda telah melihat kondisi anak yang sudah mulai kepayahan menahan kantuk, namun mereka tetap bersih keras untuk tetap aktif, hal tersebut semata-mata dipicu karena anak tak ingin berada jauh dari anda. Nah untuk hal inilah, sebagai orangtua anda harus mampu memberikan cara pandang berbeda pada anak-anak agar situasi tidru , terutama tidur dimalam hari menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Bila perlu dongengkan sebuah cerita sebagai pengantar tidurnya sehingga tidur lelap dimalam hari tidak akan terasa sulit untuk mereka.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Apabila Ia Kehilangan Barang/Mainan, Orangtua Akan Membelikan Kembali”]Ketika boneka barbie si kecil rusak atau bola basket si buah hati tiba-tiba kempes dan tak bisa lagi dipakai. Anda lantas dengan mudah mengatakan pada si kecil bahwa anda akan membelikan kembali yang baru untuk mereka. Meskipun, maksud kita baik agar anak-anak bisa kembali ceria dan mendapatkan mainan mereka. Namun, bukan tidak mungkin anak-anak anda bisa memaknai bahwa anda akan dengan mudah membelikan mereka mainan yang baru, yang apda akhirnya membuat anak-anak seolah tak peduli pada apa yang ia miliki. Nah, dari sinilah orangtua harus mampu memberikan pehaman baru pada anak untuk dapat merawat apa yang menjadi miliknya. Buat pula anak mengerti arti menghargai pemberian dan menjaga barang-barang pribadnya dengan baik dibandingkan dengan membuang uang untuk membeli yang baru. Anak-anak seringkali mendapatkan mainan baru yang dibelikan oleh orangtua mereka atau didapat sebagai hadian dari paman dan bibinya dan ketika mainan tersebut berserakan dimaana saja, mereka akaSn cenderung acuh dan tidak peduli. Nah, disinilah ibu dan ayah harus bisa mengajarkan kedisiplinan untuk anak-anak agar bisa menjaga dan menghargai pemberian dari orang lain. Selain itu, beritahukan pada anak-anak bahwa anda tidak akan selamanya bisa membelikan mereka mainan yang baru. Akan ada saatnya, dimana anda dan keluarga harus berhemat dan menabung untuk masa depan keluarga. Yang terpenting adalah buatlah anak-anak mengerti untuk dapat menghargai dan menjaga dengan baik barang-barang pribadi miliknya.[/x_accordion_item]

Pandangan atau anggapan keliru anak-anak terhadap pola pengasuhan yang diberikan oleh orangtunya akan berdampak fatal jika terus-terusan dibiarkan. Untuk itulah, mengenali dan mengetahui solusi untuk menindak lanjuti kekeliruan pada anak-anak atas pengasuhan yang diberikan orangtua diharapkan dapat membantu ibu dalam mendidik dan mengasuh anak-anak menjadi pribadi yang berkualitas.

Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sewaktu Memberikan Larangan “Tidak” Atau “Jangan” Pada Si Kecil

Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sewaktu Memberikan Larangan “Tidak” Atau “Jangan” Pada Si Kecil

Setiap orangtua didunia tentu menginginkan hal yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Itulah mengapa, ada banyak upaya dan tindakan yang akan dilakukan para orangtua untuk bisa mengendalikan dan membimbing anak-anaknya pada jalan yang mereka kehendaki, tentunya jalan tersebut adalah jalan yang benar yang tidak akan menjerumuskan anak-anaknya.

Nah, dalam rangka mengarahkan dan membimbing anak inilah yang membuat orangtua banyak menerapkan peraturan dan arahan dalam kehidupan seorang anak. Hal ini tentu saja, semata-mata demi membatasi sikap anak agar tidak menyimpang dan berlebihan. Untuk itulah, dalam mendidik anak orangtua akan memberlakukan apa yang boleh dilakukan oleh anak dan apa yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk dilakukan yang mana hal ini seringkali disebut dengan larangan.

Ketika buah hati mereka kedapatan melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka dalam bahaya atau melanggar sebuah peraturan yang sudah dibuat, maka orangtua cenderung akan memberlakukan larangannya dengan mengatakan “tidak” atau “jangan” pada buah hati mereka.

Akan tetapi, dua kata larangan ini umumnya tidak disukai oleh anak-anak. Tidak sedikit diantara mereka yang bahkan tidak mengindahkan larangan dari orangtua. Sebaliknya, mereka malah mengabaikan larangan tersebut dengan sengaja melakukannya. Sebuah penelitian menunjukan bahwa banyaknya larangan yang diterima anak-anak akan berpengaruh pada sikap anak-anak di kemudian hari.

Anak-anak adalah sumber belajar untuk menyusun strategi dalam reaksi tindakan mereka. Dalam hal ini orangtua seringkali dihadapkan pada perintah dan larangan atas perilaku anak-anaknya. Padahal keduanya memiliki pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter pribadi anak, yang mana pribadi ini akan terus tertanam dalam dirinya dan terbawa hingga ia dewasa.

Ketika orangtua memberikan larangan dengan penyampaian yang keliru, anak akan dapat meniru kembali cara orangtua menolak permintaannya. Bahkan, anak yang sering menerima kata larangan akan cenderung memiliki kemampuan bahasa yang kurang dibandingkan anak lain yang sering menerima kalimat positif. Untuk itulah, akan lebih baik jika sebelum memberikan larangan pada anak-anak, orangtua mempertimbangan banyak hal semata-mata demi kebaikan buah hatinya.

Memberikan larangan atau berkata “tidak” pada anak-anak sebaiknya memiliki batasan serta aturan agar hal tersebut tidak menganggu perkembangan emosional si anak. Sebab ada dampak yang buruk yang akan berpengaruh pada anak-anak, salah satunya adalah membuat si anak merasa rendah diri dan membuat mereka tidak kemampuan untuk dapat memecahkan masalah sendiri. Akan tetapi disamping itupun, memberikan larangan pada anak, semata-mata bertujuan untuk mendisiplinkan mereka.

Lantas, apa sajakah beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh orangtua sebelum memberikan larangan pada anak-anak? Mari kita simak berikut ini.

[x_accordion_item title=”Berikan Penjelasan Sederhana”]Ketika anda memberikan larangan pada si kecil pada sesuatu hal. Sebaiknya, tidak hanya menyampaikan larangan tersebut dengan semata-mata. Anak-anak tentu saja akan merasa bingung, apalagi ketika larangan tersebut disampaikan dengan tiba-tiba. Hal ini tentu saja akan membuat anak terkejut dan sedih. Itulah mengapa anak-anak balita yang diberikan larangan akan cenderung marah dan malah menangis. Nah, agar anak bisa menerima larangan yang diberikan oleh orangtua, maka cobalah berikan penjelasan pada si kecil agar mereka tidak merasa bingung kenapa dirinya dilarang. Tak perlu penjelasan yang panjang dan bertele, cukup berikan penjelasan yang sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh si kecil. Misalkan, ketika anda melarang si kecil dengan perkataan “Dek, jangan main api, sini bersama dengan ibu. Api berbahaya, Nak,” kalimat ini tentunya akan lebih bijak dibandingkan hanya dengan melarangnya “Jangan main dekat api, dek!” Hal ini justru akan membuat benak si anak dibendungi dengan pertanyaan yang pada akhirnya membuat raa penasarannya untuk bermain api akan menjadi lebih besar.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Berikan Alternatif Positif”]Ketika memberikan kalimat larangan, sebaiknya sampaikan dengan jelas dan secara sfesifik. Selain menghindari anak kebingungan, kalimat yang jelas akan membuat anak lebih mudah menuruti dan memahaminya. Misalkan, ketika anda melarang anak-anak untuk berlarian didalam rumah sebaiknya tidak katakan “Jangan lari-lari didalam rumah!”, sebaliknya lebih baik katakan “Dek, jalan pelan-pelan ya kalau didalam rumah”. Nada larangan ini tentunya terdengar lebih seperti nasihat dibandingkan larangan yang umumnya tidak disenangi anak-anak. Dengan demikian anak-anak akan cenderung lebih mendengarkan dan menerima apa yang kita berikan.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Jangan Sampaikan dengan Nada Keras dan Lantang”]Ketika mendapati si kecil melanggar peraturan atau melakukan kesalahan, sebaiknya jangan berikan larangan yang terdengar dengan lantang atau bernada keras. Apalagi jika disampaikan dengan kata-kata yang kasar. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada perkembangan si kecil. Ketika anda menyampaikan larangan dengan kata-kata yang kasar, hal ini bukan tidak mungkin ditiru oleh mereka. Anak-anak akan mengasumsikan bahwa menyampaikan penolakan yang baik adalah disampaikan dengan nada lantang dan kata-kata kasar. Untuk itulah, sebaiknya perhatikan setiap perkataan dan perhatikan nada anda sewaktu berbicara pada mereka. Yang terpenting dari larangan ini adalah upayakan sebisa mungkin agar anak-anak bisa menuruti larangan tersebut namun dengan tidak mengabaikan hal-hal penting yang bisa mempengaruhi perkembangan si anak.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”Tanyakan Kembali Aturan Untuk Mengingatkannya”]Ketika anak-anak melanggar aturan yang telah mereka pelajari dan mereka paham betul akan sanksi dan peraturan yang sudah dibuat. Daripada marah-marah, lebih baik kendalikan emosi anda. Siapa tahu anak anda melakukannya dalam rangka mencari perhatian anda. Untuk itu, sebaiknya tanyakan kembali aturan yang pernah anda buat. Hal ini semata-mata untuk mengingatkan anak-anak akan peraturan tersebut. Seperti misalkan “Dek, apa yang mama bilang tentang tidak mengerjakan PR?” atau “Dek, mainan dirapikan lagi ya, ingat kan yang mama bilang?”. Hal ini akan membantu anak untuk memperkuat pemahaman aak tentang sebuah aturan dan meraka dapat memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.[/x_accordion_item]

Tidak semua strategi dapat berkerja pada setiap anak. Untuk itu, sebagai orangtua kesabaran kita akan diuji untuk dapat mendisiplinkan buah hati. Akan tetapi mengetahui beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum memberikan larangan adalah hal penting sebab dampak dari larangan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak terutama pembentukan kepribadiannya. Semoga tips ini brmanfaat untuk semua orangtunya dimanapun berada.

Ketika Ada Masalah Di Sekolah, Siapa yang Harus Dipercaya? Anak atau Gurunya?

Ketika Ada Masalah Di Sekolah, Siapa yang Harus Dipercaya? Anak atau Gurunya?

Bunda, pernahkan anda menjumpai kasus dimana bunda mendapatkan laporan yang berbeda dari buah hati anda yang bersekolah dengan laporan yang diberikan oleh gurunya?

Misalnya seperti ini, dihari itu, si guru melaporkan bahwa sikap anak kita begitu bandel, sulit diatur dan bahkan ia sampai melukai teman-temannya dan membuat onar satu kelas sehingga keadaan di sekolah menjadi gaduh dan tak kondusif. Akan tetapi, ketika anda mengkonfirmasi si anak, ia justru memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Sebaliknya, anak anda pulang dengan laporan yang berbeda yang disampaikan dengan laporan gurunya dihari yang sama, ia justru mengatakan bahwa gurunya memperlakukannya dengan galak, sampai menjewer, mencubit dan memarahinya dengan begitu besar. Atau bisa jadi si kecil pulang sekolah dengan membawa “oleh-oleh” yakni berupa sikap atau kata-kata baru yang buruk, dan ketika anda menegurnya, ia menjawab bahwa ibu guru yang mengajarkannya di sekolah. Dan sementara itu, ketika anda mengkonfirmasi guru yang bersangkutan, si ibu guru malah mengatakan hal yang berbeda dengan laporannya tentang anak anda.

Jika seperti ini, lantas bagaimana anda menyikapinya? Pernahkah terbersit pikiran dalam benak anda kebingungan akan harus memihak pihak yang mana antara anak anda dan gurunya di sekolah?

Jika hal ini benar-benar terjadi, tentu akan menjadi dilema yang besar ya bunda. Di satu sisi, anda tak ingin menjadi sosok orangtua yang menaruh curiga pada buah hati anda, apalagi saat ini usia si anak masih begitu kecil. Akan tetapi, di sisi lain, anda pun dibuat bingung, masa iya seorang guru berbohong dengan ucapannya? Saat hal ini terjadi, seringkali akan membuat kita bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Terkadang hal ini malah akan menjadi beban pikiran untuk anda. Ditambah lagi, jika perilaku dan perbuatan baru yang didapat si kecil merujuk pada tindakan menyimpang dari moral yang tidak baik ia dapatkan.

Jika sudah begini, apa yang akan anda lakukan bunda? Akankah anda mempercayai laporan si kecil karena mengganggap usia mereka yang masih begitu kecil membuat mereka selalu berkata jujur? Atau anda akan lebih percaya dengan laporan si guru karena anda menganggap seorang guru tidak akan berbohong?

Berikut ini kami berikan beberapa tips yang bisa anda jadikan pertimbangan ketika menghadapi masalah seperti ini agar anda bisa menyelesaikan masalah ini dengan lebih baik.

[x_accordion_item title=”1. Kenali dengan Baik Karakter Si Anak di Rumah”]Sebelum terburu memutuskan mana yang salah dan mana yang benar, sebaiknya akan lebih bijak bagi kita untuk mengetahui dengan baik karakter si anak dirumah. Jika anda melihat karakter si buah hati terlihat baik, anteng, pendiam dan lain sebagainya. Maka, anda bisa mempertimbangkan laporan si kecil sebagai kebenaran. Namun, jika karaketer anak dirumah seringkali membuat masalah, membuat onar, menjahili anak lain dan lain sebagainya, maka anda bisa menetukan sikap anda selanjutnya. Akan tetapi, tidak bijak pula jika anda langsung menyalahkan guru anda dan menganggap mereka berbohong. Untuk itulah, kenali terlebih dahulu sifat dan sikap anda dirumah dan disekolahnya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”2. Tanyakan dan Kenali Karakter Anak Di Sekolah”]Menyambung poin yang diatas, setelah anda paham betul dengan karakter anak dirumah. Maka penting juga untuk anda mengetahui sikap dan karakter mereka di sekolahnya. Hanya karena anak terlihat aktif dirumah, seringkali jahil dengan saudaranya dan kerap membuat kegaduhan, bukan berarti sikap yang sama mereka aplikasikan di sekolahnya, begitupun sebaliknya. dakalanya, sikap seorang anak akan berubah saat disekolah, hal ini dikarenakan anak akan menimbang kehadiran teman-temannya, oranglain dan bahkan gurunya. Dalam hal ini, bisa jadi si anak berubah menjadi pemalu, atau malah sebaliknya. Untuk itu, kenali dengan pasti sikap dan karakter anak. Anda bisa menanyakan hal ini pada teman-temanya, atau mengkonfirmasi guru lain yang tidak bersangkutan dengan laporan guru tersebut, seperti misalkan guru mata pelajaran lain yang juga mengajarkan di kelas anak atau mungkin wali kelasnya. Setelah mengetahui, sikap anak di sekolah dan dirumahnya, anda akan dapat menimbang dan menentukan sikap selanjutnya.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”3. Perjelas Kronologisnya”]Untuk mengetahui dengan jelas permasalah antara anak dan masalahnya di sekolah, perlu sekali bagi anda untuk mengetahui dengan jelas akan kronologis peristiwanya. Cerita dari si anak bisanya tidak berurut dan tidak lengkap. Selain itu, bisa jadi pernyataan yang diberikan oleh si anak hanya diungkapkan dari kondisi yang menguntungkannya saja. Semetara itu, cerita yang didapat dari si guru juga tidak bisa diterima mentah-mentah, bisa jadi si guru tidak melihat peristiwa ini dari awal dan hanya menyimpulkan bagian yang dilihatnya saja. Misalkan, si guru hanya melihat si anak berbicara kasar pada temannya, dan lantas menyimpulkan bahwa si anak tidak sopan dan begitu keras pada teman yang lain. Namun yang mungkin sebenarnya terjadi adalah si anak melakukan demikian sebagai bentuk pembelaan dirinya. Untuk itu, sebagai penengah dari hal ini anda bisa bertanya pada temannya yang lain.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”4. Ketika Kesalahan Berada Pada Si Anak”]Nah, ketika sudah diketahui segala biduk permasalahannya dan anda mendapatkan kesimpulan bahwa kesalahan ada pada anak anda, maka mintalah anak untuk meminta maaf baik pada teman-temannya, gurunya dan bahkan pada anda. Sebaliknya, jangan pernah tunjukan rasa kekesalan pada anak karena sudah membuat anda malu dengan lantas anda memukul, memarahi dan membentak si buah hati. Ajak anak untuk mengobrol dan berbicara mengapa sampai hati si anak melakukan hal tersebut. Selain itu, anda juga bisa berkaji diri mengenai bagaimana pola didikan yang sudah anda berikan pada si kecil. Sudah tepatkah selama ini anda mendidik si buah hati? Dari sini, anda bisa meminta anak dengan perlahan untuk mau meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat. Selain itu, anda juga bisa langsung menghubungi guru yang bersangkutan dan menyampaikan permohonan maaf anda padanya atas kesalahan yang dilakukan si buah hati.[/x_accordion_item]

Mendapati kasus dimana laporan dan keluhan yang disampaikan si anak bersama dengan guru tidak sinkron seringkali menjadi dilema yang besar untuk kita mempercayai salah satu diantaranya. Tak jarang, inipun menjadi beban pikiran yang membuat kita pusing. Nah, beberapa cara diatas bisa dijadikan solusi untuk mengatasi masalah anda dengan si buah hati. Semoga artikel ini bermanfaat untuk ibu dirumah dalam mendidik dan mendisiplinkan si buah hati tercinta.

Bentuk Kepribadian yang Baik, Orangtua Perlu Berikan Kepercayaan Pada Anak

Bentuk Kepribadian yang Baik, Orangtua Perlu Berikan Kepercayaan Pada Anak

Setiap anak yang lahir ke dunia, diberikan kekurangan dan kelebihan oleh Tuhan. Yang mana kedua hal ini adalah untuk disyukuri dengan cara menerima kekurangan yang telah diberikan dan mengembangkan kelebihan yang telah Tuhan anugerahkan dalam kehidupan si anak.

Setiap anak memiliki potensi pada dirinya masing-masing, yang tentunya potensi antara satu anak dengan anak lainnya tidak akan sama persis. Namun tahukah anda, bahwa petensi yang diberikan ini sejatinya bergantung pada bagaimana orangtua mereka mengasuh dan mendidiknya?

Setiap anak yang dilahirkan ke dunia, datang dengan keadaan suci, polos dan tidak tahu apa-apa. Bak sebuah kertas putih yang bersih, anak-anak yang baru saja dilahirkan, belum dibekali kemampuan apa-apa selain kemampuan motorik untuk membuka kedua matanya dan menerima rangsangan yang diberikan oleh dunia luar, seperti sentuhan, ciuman, tiupan dan lain sebagainya.

Adalah tugas seorang orangtua dalam mengenalkan anak pada banyak hal dan memberikan pendidikan baru agar anda bisa belajar dengan lebih baik sehingga mereka menjadi serba tahu. Pola pengasuhan dan didikan yag diberikan oleh orangtua juga akan mempengaruhi kualitas diri dari si anak. Segala hal yang diajarkan oleh orangtua adalah modal yang akan menentukan kepribadian dan karakter yang akan terbentuk dalam diri seorang anak.

Inilah mengapa karakter setiap anak akan berbeda dengan anak lainnya. Cara mendidik anda dengan tetangga tentu berbeda-beda yang mana anda bisa melihat hal ini dari karater dan kepribadian si anak itu sendiri.

Untuk itulah, jika ada anak bandel yang begitu sulit untuk diatur, apakah kita lantas melimpahkan kesalahan tersebut pada si anak? Tidak. Tentu saja tidak. Sebab dalam hal ini, orangtualah yang memegang kendali dan peran utama dalam pembentukan karater dan kepribadian mereka. Tentu tidak bijak, jika kita menyalahkan anak-anak yang bandel dan mencap diri mereka sulit diatur, yang namanya anak-anak, mereka akan meniru dan menyerap apa yang diajarkan oleh orangtuanya dan apa yang mereka lihat dari lingkungan sekitar.

Lantas apa sih sebenarnya faktor yang mempengaruhi seorang anak bisa begitu sulit untuk diatur? Nah, kita kenali terlebih dahulu beberapa faktor yang membuat pribadi seorang anak keras dan membuat mereka sulit diatur.

Faktor yang Membuat Pribadi Seorang Anak Menjadi Keras dan Sulit Diatur:

[x_accordion_item title=”1. Orangtua Itu Sendiri”]Peran orangtua dalam kehidupan seorang anak tentu mengambil kontrol yang paling besar. Dalam hal ini seorang orangtua berperan mendidik dan membimbing anaknya dengan sebaik-baiknya. Salah satunya yakni dengan memberikan kepercayaan pada anak, serta selalu memberikan prasangka yang baik pada mereka. Sebab hal ini pada dasarnya kembali pada kondisi seorang anak yang lahir tanpa dosa. Ketika anak-anak sulit diatur dan menjadi begitu keras kepala meskipun orangtua telah mengganggap pola pengasuhan yang diberikan sudahlah tepat. Maka sebaiknya tanyakan kembali pada cara mereka mendidiknya. Orangtua yang selalu curiga, seringkali mengintrogasi anak pada saat mereka melakukan kesalahan, selalu berprasangka buruk, tentu saja akan membuat si anak menumbuhkan rasa benci dan kesal dalam dirinya. Selain itu, anak-anak juga akan merasa diperlakukan tidak adil, merasa terhina dan bahkan bukan tidak mungkin keburukan-keburukan lainnya akan tumbuh dalam diri mereka. Sehingga yang terjadi adalah anak-anak akan menjadi seorang pemberontak, pembohong dan bahkan menganggap rendah orangtua dan memandangnya sebagai musuh mereka.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”2. Faktor Lingkungan Sekitar”]Ketika anda sudah merasa memberikan pendidikan dan bimbingan yang baik kepada anak-anak anda, namun masih mendapati si anak sulit sekali diatur dan menjadi begitu bandel. Maka, cobalah telaah kembali seperti apa lingkungan yang dihadapi oleh si buah hati. Disadari atau tidak, lingkungan mengambil sekian persen peranan dalam membentuk pribadi seorang anak.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”3. Faktor Bawaan dari Si Anak”]Sejak lahir, anak-anak sudah memiliki bawaan mereka sendiri. Ada sisi negatif dalam diri anak dimana mereka cenderung memiliki tingkat egoisme yang begitu tinggi, suka menyenangkan sendiri, tidak ingin berbagi dan lain sebagainya. Nah, disinilah orangtua dan pendidik berperan besar dalam membimbing dna menghapus sifat negatif ini dalam diri anak. Untuk itulah, penting bagi orangtua memberikan kepercayaan pada anak-anak mereka. Tanamkan kepercayaan dalam diri anda bahwa mereka adalah anak-anak yang baik dan mandiri. Tanpa disadari secara naluriah, hal ini aka menjaga dan mempertahankan apa yang anda percayai dalam diri anak-anak.[/x_accordion_item]

Lantas bagaimana jika kondisinya si anak seringkali berperilaku buruk? Perlukah kita memberikan kepercayaan padanya?

Setiap manusia yang memiliki hati dan pikiran, tentu tidak akan selama terjebak dalam kondisi yang sama dan sulit untuk dirubah. Begitupun dengan anak-anak, hanya karena anak anda seringkali berperilaku buruk, bukan berarti anda mencap diri mereka tidak akand apat berubah. Hanya saja, dalam hal ini peranan orangtua akan sangat dibutuhkan dalam membimbing anak dan mengarahkan mereka pada hal yang lebih positif.

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua dalam menghadapi anak yang sering berperilaku buruk.

[x_accordion_item title=”1. Introspeksi Diri”]Sebelum mengajarkan anak tentang bagaimana menjadi seorang yang baik, maka penting bagi orangtua untuk menginstrospeksi dirinya sendiri apakah mereka sudah baik atau belum. Sudah benarkah cara kita mendidik anak? Dalam hal ini anda tentunya tidak bisa melibatkan perasaan pribadi anda. Untuk itu, cobalah melihat situasi dengan lebih objektif.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”2. Temukan Cara Untuk Mengembalikan Keadaan”]Jangan pernah takut dan mengira sudah terlambat untuk anda bisa membuat si anak berubah. Usia anak-anak yang masih muda, selalu ada waktu untuk bisa mengubah kembali keadaan seperti semula. Untuk itu, teruslah berusaha untuk dapat membawa kembali anak-anak ke jalan yang benar. Dalam menjalankan poin ini, tantangan paling besar, mungkin akan muncul dari sikap keras kepala anak-anak. Belum lagi jika lingkungan anak sudah dinilai parah dan sulit rasanya memisahkan anak dari lingkungannya, akan menjadi hal yang besar yang harus anda lalui. Akan tetapi, jangan mudah menyerah dengan kondisi dan sikap anak. Diperlukan kesabaran dan keteguhan dalam menjalankan poin yang satu ini. Untuk itu, teruslah berupaya dan tanamkan dalam diri anda keyakinan bahwa anda akan dapat membawa anak ke jalan yang lebih baik dan mengembalikan keadaan seperti sediakala.[/x_accordion_item]

[x_accordion_item title=”3. Bersinergi dengan Anak dan Lingkungan yang Didahapinya”]Dalam hal mendidik anak yang seringkali sulit diatur, faktor lingkungan bisa jadi mengambil peranan paling banyak dalam membentuk pribadi mereka. Untuk itu, bentuk sinergi anda bersama dengan anak dan lingkungannya. Akan tetepi bukan berarti anda bisa melarang anak pergi bergaul dan memiliki teman, dalam hal ini anda harus bijak memberitahu anak untuk bisa memfilter lingkungannya.[/x_accordion_item]

Memberikan kepercayaan pada anak adalah hal yang penting guna membentuk kepribadian baik dalam diri anak. Cara diatas diharapkan mampu menjadikan referensi anda dalam mendidik buah hati.